jump to navigation

Selamat Ultah, Anakku November 20, 2008

Posted by armie in Curhat.
1 comment so far
afi_merah
 
Anakku…
ketidakhadiranku saat kau terlahir
Dan ketidakberadaanku mendampingi bundamu ketika mengandungmu
Bukan berarti ayah tak sayang padamu
Bahkan kasih dan sayangku lebih dari yang kau kira
 
Anakku…
Ketika emosiku meledak melihat sifat nakalmu muncul
Bermain tanpa kenal waktu
Hingga melupakan waktu belajarmu
Bukan ayah tak sayang lagi padamu
Ayah hanya ingin mengajarkan disiplin padamu
 
Anakku…
Hari ini genap 6 tahun usia-mu
usia yang masih terbilang masih kanak2
Ayah ucapkan “selamat ulang tahun…”
Hiasi masa kanak2-mu
Semoga panjang umur
Beri arti jejak langkahmu
Ayah doakan mudah2an kau selalu mendapat bimbingan-Nya
Menjadi anak yg sholeh kelak, cerdas dan mandiri, Amin
(Dari ayahmu yg mencintai dan menyayangimu)
 

Budaya Antri November 17, 2008

Posted by armie in Curhat.
add a comment

“Antri dong mas/mbak…?”

Sederet kalimat kemarahan dan kekecewaan yang umum terlontar dari mulut seseorang ketika ada mas2 atau mbak2 yg tiba2 saja menyerobot masuk dalam antrian pembelian tiket, entah tiket nonton, kereta api, pesawat, konser dll. Satu kata yang terlihat sederhana karena hanya tersusun atas 5 huruf tapi pada kenyataannya sangat sulit untuk diimplementasikan terutama bagi kaum yang kurang sabar atau pada kondisi terburu2. Untuk antrian tiket nonton biasanya mas2/mbak2 ini nitip ke teman yang telah ngantri lebih dulu, tentunya dengan memperhatikan batas maksimum pembelian tiket yang bisa dibeli untuk satu orang. Kalau lebih, tentu dengan terpaksa mereka harus ngantri dibelakang. …selanjutnya

Guru ngaji-ku November 15, 2008

Posted by armie in Curhat.
add a comment

Sesuatu yang menyenangkan ketika kita flashback mengenang kembali masa kanak-2, bermain bersama teman sebaya. Benteng2-an, gobak slodor/galasin, engklek, petak umpet, dll merupakan jenis2 permainan yang sering kami lakukan dengan melibatkan banyak orang. Itulah sebabnya (mungkin) anak2 dulu lebih terlihat sosialis ketimbang anak2 sekarang yang lebih cenderung individualis, karena permainan anak2 dulu sering melibatkan banyak orang sehingga mereka sering berinteraksi satu dengan yang lainnya. Beda halnya dengan sekarang, anak2 lebih asyik bermain video games, PS, PC game dsj ketimbang bermain engklek atau gobak sodor misalnya.

Tidak hanya bermain, kami (saya, kakak dan adik) juga setiap hari belajar mengaji. Setelah pulang sekolah, siang hari kami mengaji di Madrasah Diiniyah. Disanalah kami belajar akhlak, qira’ah, baca tulis Al-qur’an, dll. Memang capek dan ngantuk, terlebih malam harinya sehabis maghrib kami pun harus belajar mengaji dirumah seorang guru ngaji, namanya bapak dan ibu Sukhairi. Selain belajar tajwid, kami pun belajar tilawah dengan lagu. Manfaatnya baru terasa sekarang. Disaat masih banyak orang yang belum lancar mengaji, kami sudah lancar. Tidak bermaksud sombong ya, sejak SD, persisnya saya tidak tahu, saya sudah khatam Al-qur’an. Dan beberapa kali masuk tiga besar dalam lomba MTQ tingkat warga Krakatau Steel ;) …selanjutnya