Home > Sosial & Politik > Memperebutkan Mahasiswa Internasional

Memperebutkan Mahasiswa Internasional

Sumber kompas 24-7-07
Tiga tahun setelah tragedi 11 September 2001 di Amerika Serikat terjadi, sebuah panel perguruan tinggi AS membahas dengan serius dampaknya terhadap jumlah mahasiswa asing di negeri itu. Merupakan kenyataan bahwa AS tidak lagi menjadi tujuan utama. Calon mahasiswa internasional ketika itu mulai mengalihkan pandangan ke Kanada atau Inggris. Padahal, sepanjang 30 tahun berturut-turut, pertumbuhan mahasiswa internasional di AS menunjukkan kecenderungan meningkat secara signifikan.Keprihatinan pun sangat mewarnai pertemuan itu. Association of International Educators menegaskan, kalau AS kehilangan daya tariknya sebagai pilihan utama mahasiswa asing, “kepemimpinan AS bakal menderita”. Peserta lain menambahkan, dominasi AS di dunia akan meluntur dalam pencetakan para doktor.

Kesadaran tentang ancaman “kehilangan mahasiswa asing” bukan hanya dibicarakan verbal. Tahun 2004 itu juga diajukan sebuah rancangan undang-undang oleh Senator Norm Coleman yang dimaksudkan untuk membuka akses bagi mahasiswa dan ilmuwan internasional untuk masuk ke perguruan-perguruan tinggi di AS. Alasannya, membuka pintu bagi mahasiswa internasional dan pertukaran sarjana selama ini telah menjadi bagian penting bagi kepentingan kebijakan luar negeri, pendidikan, dan ekonomi AS.

Hasilnya lumayan. Catatan yang direkam Council of Graduate Schools (CGS)—dilansir oleh US Info—menunjukkan bahwa ada peningkatan aplikasi sebesar 12 persen dari tahun 2005 ke 2006 dan 8 persen antara 2006 dan 2007. Bandingkan dengan kenaikan yang cuma 1 persen pada aplikasi musim gugur 2005 dibandingkan dengan tahun 2004. Penyederhanaan prosedur pembuatan visa dan peningkatan jumlah beasiswa yang ditawarkan adalah salah satu iming-iming untuk menarik kembali minat mahasiswa internasional.

Pentingnya mahasiswa asing
Mengapa mahasiswa internasional menjadi terasa penting? Kemampuannya menyedot devisa memang menjadi salah satu pertimbangan. Namun, bagi AS, urusannya bukan sekadar angka 13 miliar dollar AS (Rp 118 triliun) setahun, melainkan akibat yang menggelinding setelah para mahasiswa itu menimba ilmu. Dikatakan oleh William R Brody, Presiden The Johns Hopkins University, lewat artikelnya di The San Jose (Calif.) Mercury News, mahasiswa asing membawa banyak keterampilan yang sangat dibutuhkan AS. Ia menunjuk kepada hamper separuh mahasiswa program graduate untuk bidang engineering dan ilmu komputer di universitas-universitas AS. Banyak dari mereka yang kemudian bermukim permanen di AS. Bahkan lebih dari sepertiga ilmuwan di berbagai
universitas untuk kedua subyek tersebut adalah kelahiran non-AS.
Brody pun sangat terkesan dengan apa yang dilakukan oleh Singapura. Negeri ini sangat aktif merekrut pelajar dan mahasiswa terpandai dan paling cemerlang dari berbagai negara untuk belajar di universitas-universitas mereka yang sudah kelas dunia. Sebagai imbalannya, setelah lulus mereka harus tinggal dan bekerja di Singapura untuk beberapa tahun. Bahkan, mereka dibujuk untuk menetap secara permanen agar ilmu yang mereka miliki bisa disumbangkan kembali buat kemajuan masa depan teknologi tinggi negara ini.“Bagi Singapura, jumlah mahasiswa asing yang masuk—layaknya neraca perdagangan atau cadangan devisa—dianggap sebagai indikator ekonomi yang penting. Mereka adalah bentuk lain dari jaminan ekonomi dan produktivitas masa depan bangsa,” tulis Brody. Ia melihat apa yang dilakukan Singapura juga dilakukan oleh Kanada dan Jerman dengan kebijakan yang lebih kurang serupa, yaitu “migrasi tenaga kerja terlatih”.Sementara di mata Brody, talenta serupa semakin sulit dijumpai di AS. Pelajar dinegerinya tak lagi tertarik dengan pekerjaan masa depan, seperti teknologi informasi, misalnya. Dia lantas mencontohkan bagaimana di universitasnya, Johns Hopkins, tahun 2005 hanya ada 4 persen mahasiswa baru yang belajar sains komputer dan rekayasa komputer.“Kita harus sadar, seperti Singapura, bahwa kita sekarang dalam kompetisi global untuk memperoleh bakat high-tech, dan bakat seperti itu tidak mengenal batas negara. Sementara kita tetap harus berusaha untuk tidak meninggalkan anak-anak kita, kita juga perlu terus menerima anak-anak muda terbaik dan tercemerlang di tempat kita, karena mereka juga bagian dari masa depan Amerika,” ujarnya.Bisnis menggiurkan
Lain Amerika, lain Inggris. Bisnis pendidikan untuk mahasiswa asing dinegeri ini dianggap sangat menggiurkan. Bahkan, pemimpin perkumpulan universitas-universitas Inggris, Profesor Drummond Bone, seperti diberitakan di situs web BBC News, akhir Mei lalu, menilainya sebagai industri ekspor utama, yang nilainya lebih dari industri makanan dan minuman, tembakau, asuransi, kapal, dan pesawat terbang. Pada tahun 2020, ia memperkirakan nilainya dalam perekonomian Inggris mencapai 20 miliar poundsterling (Rp 370 triliun).

Namun, harapan bisa berbeda dengan kenyataan. Pangsa pasar mereka makin menurun dari tahun ke tahun akibat kompetisi yang makin ketat. Sebagai contoh, tahun lalu di China jumlah aplikasi visa untuk menjadi mahasiswa di Inggris merosot 38 persen. Ada beberapa alasan yang mendasari. Pertama, beberapa universitas elite di China mengembangkan banyak cabang di kota-kota lain di negeri itu guna meningkatkan daya saingnya dengan universitas-universitas kenamaan di dunia. Salah satu yang cukup kompetitif adalah Tsing Hua University, yang tahun 2006 melonjak ke urutan 28 dunia menurut versi The Times Higher Education Supplement (THES) setelah setahun sebelumnya berada di urutan 62. Alasan kedua, AS dan Australia—yang sama-sama menyediakan pendidikan berbahasa Inggris—memang tengah menginvestasikan banyak dana untuk memperbesar pangsa pasar. Ketiga, negara-negara Eropa kontinental ikut meramaikan pasar dengan juga menyediakan pendidikan berbahasa Inggris bagi mahasiswa asing.

PM Inggris yang waktu itu masih dijabat Tony Blair pun lantas menggulirkan kebijakan untuk memperluas barisan mahasiswa internasional di negeri itu yang saat ini mencapai 300.000-an orang. Kebijakan yang disebut Inisiatif untuk Pendidikan Internasional (PMI) tersebut diperkirakan bisa menarik 100.000 mahasiswa asing dalam waktu lima tahun mendatang. Karena uang sekolah yang dikutip dari mereka jauh lebih tinggi dibandingkan dengan mahasiswa lokal, sekurangnya setiap tahun universitas-universitas di Inggris bisa meraup 4 miliar poundsterling (Rp 74 triliun).

Negara mana yang tak tergiur dengan devisa miliaran poundsterling? Tak heran kalau di kota-kota besar negara mana pun, termasuk Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, berbagai pameran pendidikan luar negeri digelar secara rutin. Terjadi persaingan ketat antarnegara untuk memperebutkan mahasiswa dari negara lain. (fit)

Categories: Sosial & Politik
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: