Home > Journal of life > Pembantu-ku…

Pembantu-ku…

Sebenarnya saya tidak layak menyebut ibu ini sebagai seorang pembantu, karena cinta dan kasih sayangnya kepada buah cinta kami seperti kepada anaknya sendiri. Berusia sekitar 50-an, kami mengambilnya dari sebuah tempat yayasan penyalur pembantu di Bandung. Istri-lah yang memilihnya sebagai pengganti pembantu kami sebelumnya, meskipun pada awalnya saya ragu akan kegesitannya dalam bekerja dan mengasuh anak mengingat usianya yang sudah cukup tua untuk ukuran seorang pembantu.

Keraguan saya hilang seketika ketika beliau menunjukkan ‘kelihaiannya’ dalam ‘mengolah’ rumah kami. Bisa anda bayangkan, dari mulai jam setengah empat hingga malam hari tak lepas tangannya bekerja. Menyapu dan mengepel lantai, masak, mengasuh anak ketika kami berdua bekerja, menyetrika dan pekerjaan2 rumah lainnya. Semua dilakukkannya tanpa perintah. Beliau tahu apa yang harus dilakukan. Dan itu ia lakukan tanpa keluhan. Subhanallah…

Sebenarnya kami telah memberikan kelonggaran untuk tidak harus bekerja mulai jam setengah empat atau mengerjakan semua pekerjaan rumah, toh sebenarnya tugas beliau yang utama hanya menjaga kedua buah hati kami. Mungkin sudah bawaan dari sananya, yang terbiasa bekerja sehingga badan terasa pegal2 bila tidak melakukan ‘aktifitas rutin’nya.

Beberapa bulan yang lalu, saya terbaring sakit sehingga harus istirahat selama beberapa hari.  Beliau lah yang menyiapkan makan dan segala keperluannya selama istri bekerja. Secara berurutan, istri dan anak2 kami pun sakit. Mungkin karena cuaca yang kurang bersahabat. Saya tahu, beliau pun sakit, tapi dengan kesabaran dan ketelatenannya, beliau rawat kami. Subhanallah…terima kasih ya robb…telah engkau kirimkan kami khadimat yang penyabar, seorang ibu yang loyal terhadap pekerjaannya sekaligus sayang kepada kami semua.

Beberapa minggu terakhir, sakit beliau tak kunjung sembuh. Kami sudah mengantarnya ke dokter dan berusaha untuk mengantarnya ke dokter spesialis, tapi beliau menolak karena takut merepotkan. Sehingga dengan inisiatif sendiri, beliau meminta ijin untuk berobat dikampungnya, seperti yang biasa dilakukan ketika sakit. Itu-pun tak mampu menyembuhkan penyakitnya. Hingga hari minggu kemarin beliau meminta ijin untuk istirahat dikampungnya selama beberapa bulan dan entah akan kembali atau tidak.

Kami hanya bisa berharap beliau akan kembali dan berdoa atas kesembuhannya, sehat seperti sedia kala.

Ya robb…yang menyembuhkan segala penyakit

Berilah kesembuhan atas sakitnya sehingga beliau dapat tegak berdiri

Kembali berkumpul bersama kami, Bekerja dan mengasuh buah cinta kami, Amin…

 

Categories: Journal of life
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: