Home > Journal of life > Sinetron musiman

Sinetron musiman

Beberapa tahun yang lalu, ketika film Ada Apa dengan Cinta (A2DC) booming, banyak para produser Indonesia yang berbondong2 menggarap proyek film bertema remaja. Film A2DC seolah2 menjadi trigger bagi bangkitnya perfilm-an Indonesia yang kala itu sudah lesu. Minat masyarakat yang besar terhadap film bertema seperti ini merupakan peluang yang sayang untuk dilewatkan oleh mereka untuk meraup rupiah. Selanjutnya, bermunculanlah film dengan tema sejenis yang alur ceritanya gampang ditebak dan dari itu ke itu saja.

Tidak mau ketinggalan, muncul juga sinetron2 TV dengan tema yang sama. Percintaan remaja, ABG, dll yang jika dilihat dari segi kualitas, jauh dari bagus. Bahkan sinetron2 plagiat pun banyak bermunculan. Yang penting untung dan ratingnya naik. Kalau saya yang nonton sich kayanya sangat tidak menarik, tapi lain halnya dengan anak2 ABG yang menurut mereka mungkin sangat penasaran untuk tidak dilihat. Tidak heran kalo aktor dan artis yang bermunculan pun sering berganti dan kebanyakan dari mereka adalah anak2 usia sekolah. Bagaimana mungkin anak seusia mereka sudah disibukkan dengan kegiatan2 syuting sinetron yang banyak menyita waktu, terlebih bila sinetron tersebut kejar tayang. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana mereka membagi waktu antara sekolah dan syuting. Ya sudahlah…toh itu bukan urusan saya🙂

Setelah sinetron bertema remaja habis musimnya, ganti lagi dengan sinetron mistik atau religius yang diselingi dengan mistik. Kadang2 judul dan alur cerita pun tidak nyambung yang penting rating naik. Ada rahasia ilahi, cahaya ilahi, dll yang seharusnya ketika sinetron tersebut kita tonton, hati menjadi tentram dan seolah2 tersirami untuk lebih mendekatkan diri kepada-Nya. Tapi hasilnya justru sebaliknya, ngeri dan takut bo…:) Begitu-lah seterusnya, ketika musimnya habis, ganti lagi temanya

Nah, sekarang kan bulan Romadhon, jadi tema sinetron2 yang muncul-pun tentunya yang religius, nuansa islami gitu loh. Artis2 pun berkerudung, tak ketinggalan yang aktor pun pake baju koko. Malahan ada aktor yang dalam lakonnya kemana2 selalu pake peci. Halah…apa memang seperti itu sich seharusnya. Yang lebih lucu lagi, alur ceritanya itu lo…nggak jauh2 ke masalah cinta dan pacaran. Mungkin karena isu cinta paling laku digarap kali ya…? jadi nggak ada matinya…huh…cinta…?

Categories: Journal of life
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: