Home > Journal of life > Bahasa dan perilaku anak

Bahasa dan perilaku anak

September 16, 2008 Leave a comment Go to comments

Entahlah kenapa akhir2 ini saya sering kali mengamati perkembangan bahasa dan perilaku kedua anak saya, Afi dan Ifa. Mungkin karena Ifa yang sudah pintar berceloteh dan semakin kaya akan perbendaharaan kata sehingga terlihat sangat lucu dan cukup menghibur, atau saya yang mulai menikmati kebersamaan bersama mereka ya? Ah…sudahlah pertanyaan2 itu tidak cukup penting buat saya. Toh..mereka menikmati keceriaan mereka dan saya pun tentunya sangat senang mereka tumbuh dengan sehat.

Dulu ketika Ifa baru lahir, Afi terlihat sangat cemburu sekali. Ini ditunjukkannya dengan berbagai cara dari mulai perilaku hingga nama panggilan. Ifa tidak boleh dipanggil dengan sebutan “sayang” seperti kami memanggil Afi, sehingga kami menggantinya dengan kata “sayung”. Berikutnya Sayang dan sayung identik dengan nama panggilan mereka, Afi dan Ifa. Tapi setelah Afi agak besar, rasa cemburunya berangsur2 mulai terkikis berganti rasa sayang. Ini ditunjukkan dengan mengajaknya bermain dan akan merasa kehilangan bila Ifa tidak terlihat. “Ifa kemana mah…?” begitulah pertanyaannya ketika tidak dijumpainya Ifa dirumah sehabis pulang sekolah.

Akhir2 ini Ifa mulai pintar berceloteh dan mengomentari perilaku kami sebagai orang tuanya. Ketika kami berdua bercanda dan tertawa, secara spontan Ifa berkomentar “kenapa tawa…?” yang membuat kami sontak tertawa. Ketika kami mau berangkat kerja, ia bertanya “ayah mau pergi kemana?” tentu saja saya jawab kalau saya akan pergi bekerja. Dan masih banyak lagi celoteh2annya yang membuat kami tersenyum. Mungkin Ifa belajar banyak dari tayangan televisi sehingga semakin menambah perbedaharaan kata yang dimilikinya. Kami juga tentu saja mengajarkan bahasa yang mudah untuk dipahami untuk anak seusia mereka. Kemaren sore, ketika Ifa main sepeda ditengah jalan didepan rumah kami, kami suruh untuk agak kepinggir agar tidak menghalangi jalan. Tapi mungkin karena Ifa tidak mengerti arti kata “menghalangi” sehingga tetap keukeuh main sepeda ditengah jalan. Akhirnya saya katakan kepadanya kalau main sepeda terlalu ketengah (jalan), nanti ditabrak mobil lo…”O….” begitu jawabnya.

Categories: Journal of life
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: