Home > Journal of life > Guru ngaji-ku

Guru ngaji-ku

Sesuatu yang menyenangkan ketika kita flashback mengenang kembali masa kanak-2, bermain bersama teman sebaya. Benteng2-an, gobak slodor/galasin, engklek, petak umpet, dll merupakan jenis2 permainan yang sering kami lakukan dengan melibatkan banyak orang. Itulah sebabnya (mungkin) anak2 dulu lebih terlihat sosialis ketimbang anak2 sekarang yang lebih cenderung individualis, karena permainan anak2 dulu sering melibatkan banyak orang sehingga mereka sering berinteraksi satu dengan yang lainnya. Beda halnya dengan sekarang, anak2 lebih asyik bermain video games, PS, PC game dsj ketimbang bermain engklek atau gobak sodor misalnya.

Tidak hanya bermain, kami (saya, kakak dan adik) juga setiap hari belajar mengaji. Setelah pulang sekolah, siang hari kami mengaji di Madrasah Diiniyah. Disanalah kami belajar akhlak, qira’ah, baca tulis Al-qur’an, dll. Memang capek dan ngantuk, terlebih malam harinya sehabis maghrib kami pun harus belajar mengaji dirumah seorang guru ngaji, namanya bapak dan ibu Sukhairi. Selain belajar tajwid, kami pun belajar tilawah dengan lagu. Manfaatnya baru terasa sekarang. Disaat masih banyak orang yang belum lancar mengaji, kami sudah lancar. Tidak bermaksud sombong ya, sejak SD, persisnya saya tidak tahu, saya sudah khatam Al-qur’an. Dan beberapa kali masuk tiga besar dalam lomba MTQ tingkat warga Krakatau Steel😉

Guru ngaji-ku, bapak dan ibu Sukhairi merupakan profil yang rendah hati dan suka membantu. Keluarga kami memiliki hubungan yang sangat dekat dengan beliau. Diwaktu2 tertentu keluarga kami saling bertukar makanan dan berkunjung, terutama ketika hari raya tiba. Suatu momen yang sulit kami lupakan.

Kini keduanya telah tiada. Ibu sukhairi baru saja menyusul suaminya yang telah lebih dulu meninggal karena sakit yang berkepanjangan beberapa hari setelah hari raya. Kaget bercampur sedih berkecamuk dalam batinku karena lebaran yang lalu aku belum sempat bersilaturahmi dengannya. Teriring doaku untuk beliau, mudah2an mendapat tempat yang layak disisi-Nya dan mendapat ganjaran yang setimpal atas apa2 yang telah dilakukannya, serta ditempatkan pada jannatul firdaus. Dan tak lupa ku ucapkan terima kasih atas segala ilmu yang telah diajarkan, mudah2an terhitung sebagai amal jariyah dan barakah, Amin…

Categories: Journal of life
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: