Home > Journal of life > Budaya Antri

Budaya Antri

“Antri dong mas/mbak…?”

Sederet kalimat kemarahan dan kekecewaan yang umum terlontar dari mulut seseorang ketika ada mas2 atau mbak2 yg tiba2 saja menyerobot masuk dalam antrian pembelian tiket, entah tiket nonton, kereta api, pesawat, konser dll. Satu kata yang terlihat sederhana karena hanya tersusun atas 5 huruf tapi pada kenyataannya sangat sulit untuk diimplementasikan terutama bagi kaum yang kurang sabar atau pada kondisi terburu2. Untuk antrian tiket nonton biasanya mas2/mbak2 ini nitip ke teman yang telah ngantri lebih dulu, tentunya dengan memperhatikan batas maksimum pembelian tiket yang bisa dibeli untuk satu orang. Kalau lebih, tentu dengan terpaksa mereka harus ngantri dibelakang.

Pengalaman ngantri beberapa waktu yang lalu saat membeli tiket nonton laskar pelangi disatu bioskop di Bandung. Rencana nonton yang jam 14.00 atau 14.30, ternyata kebagian yang jam 16.30, karena tiket untuk jam2 tersebut telah habis terjual. Estimasi saya kalau antri secara normal, dengan pengertian bahwa tidak ada titip2an, saya bisa pastikan bahwa saya bisa memperoleh tiket untuk waktu2 tersebut. Tapi, ya sudah lah, kalau pun harus complain juga ke siapa? dan apakah dengan complain seperti itu akan menyelesaikan masalah? Yang ada mungkin akan memperpanjang masalah.

Saya sadari bahwa kesadaran bangsa kita untuk aktifitas yang satu ini sangat rendah. Mereka akan menempuh segala cara untuk dapat dilayani terlebih dahulu. Hal yang sama juga terjadi pada antrian kendaraan, mereka akan mengambil jalur mobil lain yg berlawanan arah untuk bisa mendahului mobil yang berada didepannya. Hal ini tentu akan lebih memperparah kemacetan yang terjadi. Sesuatu yang sering kita temui dijalan ketika terjadi antrian kendaraan.

Satu kasus lagi saya alami beberapa hari yang lalu ketika mengantar anak saya cukur rambut. Setelah lama menunggu ternyata si tukang cukur lebih mendahulukan anak lain dengan alasan bahwa ia sebelumnya telah datang lebih dahulu tapi pergi lagi untuk suatu keperluan. Saya tidak akan marah dan kecewa kalau tukang cukur tersebut memberitahukan diawal, sehingga saya bisa cari tempat cukur lainnya. Tapi ketika saya sudah menunggu cukup lama dan dia lebih mendahulukan orang lain yg datang belakangan, tentu saja saya marah (dalam hati) sambil mengelus dada, sabar…sabar…;). Akhirnya saya tinggalkan tempat tsb tanpa pesan dan berjanji dalam hati tidak akan pernah datang2 lagi meskipun sebelumnya saya telah beberapa kali cukur rambut di tempat tersebut, huh…

Prinsip saya adalah bahwa yang duluan ngantri-lah yang mestinya dilayani meskipun ada orang lain datang terlebih dahulu kemudian pergi dalam waktu yg cukup lama. Kecuali memang ada pemberitahuan diawal sehingga kita bisa mencari alternatif lain dan tidak membuang2 waktu percuma

Categories: Journal of life
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: