Home > Sosial & Politik > Empati pergi kemana ya…?

Empati pergi kemana ya…?

Belum usai satu permasalahan bangsa diselesaikan, muncul lagi masalah lain. Mereka datang silih berganti tanpa masyarakat tahu bagaimana ending dari masalah tersebut terselesaikan. Kasus Prita, cicak dan buaya, dan yang terakhir adalah kasus bailout bank Century, yang hingga kini masih terasa abu-2. Kemana saja aliran dana talangan tersebut mengalir? Kenapa pemerintah dengan begitu saja mengucurkan dana sebanyak itu? Seberapa hebatnya kah bank Century sehingga pemerintah berani mengucurkan dana sebesar itu untuk menyelamatkannya dari kebangkrutan? Dan pertanyaan-2 lain yg berkecamuk yang tidak pernah ada jawaban yang sangat memuaskan, bahkan dari pejabat terkait sekalipun. Bayangkan bila dana talangan sebanyak itu digunakan untuk kemakmuran dan kesejahteraan rakyat.

Belum lagi usai masalah bank Century, kini muncul berita yang tidak kalah hebohnya, yakni penyediaan kendaraan dinas bagi para pejabat. Sungguh luar biasa, satu mobil pejabat seharga lebih dari 1 milyar. Bukankah ini satu pemborosan? Ditengah penderitaan rakyat akibat krisis yang berkepanjangan, musibah yang terjadi di beberapa tempat dlsb, bagaimana mungkin para pejabat tanpa rasa empati menari-2 dan memperkaya diri? Bukankah sebagai seorang pemimpin sepatutnya memberikan contoh bagaimana hidup secara sederhana? Kalau memang mobil dinas merupakan satu keharusan, bukankah dengan dana sebesar itu pemerintah dapat membeli 5 hingga 6 mobil? itu pun sudah tergolong mewah.

Ini tidak hanya terjadi di level atas pemerintahan saja, tapi para pejabat tingkat bawah (kroco) pun bersikap demikian. Berusaha memperkaya diri dan menikmati fasilitas yang diberikan tanpa empati sedikit pun terhadap masyarakat sekitar atau bawahannya. Syukur-2 kalau fasilitas yang diberikan dikembalikan ketika berakhir masa jabatannya, tapi ini pun tidak mereka lakukan dengan dalih yang membuat kepala pusing dan emosi. Para pejabat yang sebelumnya sangat diharapkan dapat menjadi penyejuk dan wakil masyarakat, justru kini malah mengikuti arus. Kemana larinya nurani dan empati para pejabat kita? Pantas saja Allah tidak henti-2 nya menghukum bangsa ini dengan berbagai macam bencana spt gempa, longsor, kebakaran, dlsb.

Oh…kemana larinya empati para pejabat kita yg terhormat…?

Categories: Sosial & Politik
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: