Home > Sosial & Politik > Pengusaha, Pendidik, dan Peneliti

Pengusaha, Pendidik, dan Peneliti

Konon kata orang dulu, kalau kita ingin punya uang banyak dan hidup serba berkecukupan, bekerjalah diperusahan swasta dengan rate gaji yang tinggi seperti perusahaan-perusahaan bidang perminyakan atau telekomunikasi. Atau bila punya modal yang cukup, mulailah berwiraswasta dan jadi pengusaha. Siapa tahu kelak menjadi pengusaha yang sukses dan memiliki aset yang berlimpah. Terbukti dari daftar orang-orang kaya sedunia, sebagian besar dari mereka diisi oleh para pengusaha-pengusaha sukses, termasuk dari Indonesia. Demikian halnya dengan mereka yang bekerja diperusahaan swasta, tidak sedikit dari mereka yang bekerja hanya untuk mengumpulkan modal dan sejumlah dana yang cukup untuk kemudian beralih profesi menjadi pengusaha. Selain lebih independen dan waktu yang cukup fleksibel, berwiraswasta juga memiliki keuntungan dalam dinamika ruang lingkup kerja. Seorang pengusaha selalu berpikir bagaimana strategi menghasilkan keuntungan yang banyak dari hari ke hari.

Bila yang menjadi barometer adalah uang, sangat jarang kita temukan anak-anak muda sekarang bercita-cita menjadi tenaga pendidik seperti guru atau dosen. Meskipun kehidupan tenaga pendidik sekarang sudah cukup lebih baik, tapi bila disodorkan pada 2 pilihan tersebut, kecenderungan mereka akan memilih menjadi pengusaha atau bekerja di perusahaan swasta dengan rate gaji tinggi. Padahal berbeda dengan harta yang selalu susut bila diberikan kepada seseorang, tenaga pendidik dengan ilmu yang mereka berikan, konon akan terus bertambah karena keinginan untuk terus belajar dan dahaga akan ilmu yang diminati.

Profesi paling asing di negara kita tentulah peneliti. Bila kita survey terhadap anak-anak muda sekarang tentang keinginan profesi mereka kelak dari tiga pilihan pengusaha, pendidik dan peneliti, tentu profesi peneliti menjadi pilihan terakhir. Selain kurang bergengsi, penghasilan yang minim juga menjadi alasan bagi mereka untuk menggeluti profesi yang satu ini. Ditambah lagi dengan perhatian pemerintah terhadap bidang ristek sangat minim.  Ini terbukti dengan menurunnya dana riset setiap tahunnya, dibandingkan ketika B.J.Habibie menjabat sebagai Menristek jaman ORBA. Untuk lebih jelasnya, silakan klik disini. Dalam pidatonya ketika menerima penghargaan dari ITB beliau mengatakan bahwa tingginya peradaban sebuah negara ditandai dengan kemampuan masyarakat dalam penguasaan iptek melalui riset dan teknologi. Itulah sebabnya banyak dari para ilmuwan-ilmuwan Indonesia baik yang berprofesi sebagai peneliti ataupun dosen hijrah mencari tempat dimana mereka merasa lebih dihargai.

 

http://sosbud.kompasiana.com/2010/12/09/pengusaha-pendidik-dan-peneliti/

Categories: Sosial & Politik
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: