Home > Journal of life > Manusia Produktif

Manusia Produktif

Produktif berdasarkan KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) mengandung makna mampu menghasilkan, memberikan manfaat, atau menghasilkan sesuatu secara terus menerus. Manusia produktif tentunya identik dengan orang-orang yang terus menghasilkan karya dan menebar manfaat. Waktunya dihabiskan dengan sesuatu yang bernilai, aktif bekerja dan menghindari sesuatu yang sia-sia.

Islam merupakan agama yang menganjurkan pemeluknya untuk terus bekerja dan produktif. Sebagaimana dalam sebuah hadist “Jika kiamat telah dekat sedangkan pada tangan salah seorang dari kamu terdapat biji benih yang hendak ditanamnya maka jika dia mampu hendaklah dia menanamnya” (H.R. Bukhari dan Imam Ahmad). Hadist ini mengandung makna bahwa setiap muslim seharusnya mampu memanfaatkan waktu dengan optimal dan menebar banyak manfaat kepada manusia laiinnya. Pada hadist lain yang dishahihkan Al-Albani dalam As-Silsilah As-Shahihah mengatakan “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain (HR. Ahmad, Thabrani, Daruqutni.” Hadist ini memotivasi setiap muslim untuk terus memberikan manfaat dan berkontribusi kebaikan kepada sesama manusia.

Steven Covey dalam bukunya yang berjudul “Seven Habits of Highly Effective People” memberikan tips untuk menjadi manusia yang produktif dan efektif sebagai berikut:

  1. Menjadi manusia proaktif. Jadilah manusia yang proaktif, yakni manusia yang mengerjakan sesuatu dengan sepenuh hati dan tanpa ada rasa terpaksa.
  2. Mulailah segala sesuatu dari tujuan akhirnya. Setiap pekerjaan yang kita lakukan harus memiliki visi. Visi inilah yang memberikan gambaran dan arahan bagaimana tujuan akhir akan dicapai. Dengan adanya visi kita akan bersemangat, fokus sekaligus melakukan tindakan-tindakan bertahap yang diperlukan agar visi terwujud. Dengan memulai sesuatu dari tujuan akhirnya, maka kita akan terhindar dari menyia-nyiakan waktu untuk sesuatu yang dalam jangka panjang atau bentuk akhir yang tidak bermanfaat.
  3. Dahulukan yang pertama. Dalam hidup selalu ada hal penting dan hal kurang penting atau bahkan tidak penting sama sekali. secara sederhana, kita bisa membagi aktivitas untuk menentuan mana yang penting dan mana yang tidak, mana yang mendesak untuk dikerjakan dan mana yang tidak.
  4. Berpikir saling menguntungkan. Sering kali kita tidak sadar ingin menang sendiri. Kita ingin melakukan sesuatu yang menguntungkan diri kita namun merugikan orang lain. Atau kalaupun tidak sampai merugikan orang lain, kita hanya memikirkan kepentingan pribadi dan tidak peduli apakah hal-hal yang menjadi perhatian orang lain ikut dipertimbangkan atau tidak. Tindakan disini disebut menang dan kalah. Satu pihak menang, namun pihak lainnya harus kalah. Memang tidak mudah untuk membiasakan dengan cara berpikir saling menguntungkan. Ini menuntut sikap empati terhadap situasi yang dihadapi orang lain. Pola pikir saling menguntungkan akan menjauhkan kita dari cara bertindak egois yang hanya ingin kepentingan pribadi diutamakan.
  5. Pahami lebih dulu orang lain agar mereka juga bisa memahami kita. Orang bijak mengatakan, kita memiliki dua telinga dan satu mulut agar lebih banyak mendengarkan daripada berbicara. Keterampilan mendengarkan menjadi penting buat semua orang, terutama jika kita adalah seorang pemimpin. Mendengarkan yang sesungguhnya adalah kita menaruh perhatian atas apa yang disampaikan orang lain, berusaha memahaminya, dan berusaha melihat dari sudut pandangnya. Dengan demikian kita menjadi paham mengapa orang tersebut cenderung melakukan sesuatu dengan cara tertentu, atau mengapa dia lebih memilih melakukan sesuatu dan meninggalkan yang lainnya. Kebiasaan ini mengajarkan kepada kita untuk menganalisa permasalahan dengan baik sebelum melakukan tindakan.
  6. Melakukan sinergi dengan orang lain. Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Itu sebabnya kita akan selalu saling membutuhkan. Kekurangan kita ditutupi oleh kelebihan yang dimiliki orang lain dan sebaliknya apa yang menjadi kelebihan diri kita dapat dimanfaatkan untuk membantu orang lain. Inilah kerjasama harmonis di mana masing-masing pihak menyadari kelebihan dan kekurangan masing-masing dan memilih bersinergi, bukan berjalan sendiri-sendiri.
  7. Pertajam daya nalar dan sensitifitas. Ini dimaksudkan sebagai cara agar kita melakukan tindakan yang dapat mempertajam segala macam bentuk sensor pribadi yang ada di dalam diri. Mulai dari dimensi fisik, mental, sosial, emosional, dan juga spiritual. Semua dimensi ini harus dijaga supaya seimbang. Tujuannya tentu saja agar peningkatan produksi bisa disadari dan dijadikan sebagai kebiasaan yang tak lagi dilakukan secara paksa.
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: